Kemarin
sebelum berangkat praktek, selepas magrib saya mengunjungi Aisyah .,
Saya bertemu dengan Abah seorang pedagang dan imam di sebuah musholla
di yayasan Yatim Piatu tempat tinggal "my Little angel Aisyah. Meskipun
ibadahnya tak seperti kyai besar, namun, saya bisa merasakan kehangatan
imannya. Abah ini kalo sholat hanya sebentar, doa dzikirnya pun pendek.
Kedatangn saya bersamaan dengan selesainya sholat magrib. Saya
menyapa Abah , tiba – tiba saja saya bertanya
“ Abah mengapa salatnya
sebentar, dan doanya begitu pendek, cuma melulu istighfar (mohon ampun)."
" Abah bilang bahwa ia tak ingin minta aneh-aneh. Ia malu kepada Allah".
Saya terus bertanya Abah "Bukankah Allah sendiri menyuruh kita meminta dan bukankah Ia berjanji akan mengabulkannya?"
"Itu
betul. Tapi minta atau tidak, kondisi kita sudah dengan sendirinya
memalukan.
Kita ini cuma sekeping jiwa telanjang, dari hari ke hari
nyadong berkah-Nya, tanpa pernah memberi. Allah memang Maha Pemberi,
termasuk memberi kita rasa malu. Kalau rezeki-Nya kita makan, mengapa
rasa malu-Nya tak kita gunakan?" katanya lagi.
Bergetar saya. Untuk pertama kalinya saya merasa malu sebenar-benarnya malu.
"Coba
Mbak Thia , Perhatikan di masjid-masjid, jamaah yang minta kepada Allah
kekayaan, tambahan rezeki, naik gaji, naik pangkat. Mereka pikir Allah
itu kepala bagian kepegawaian di kantor kita.
Allah kita puji-puji
karena akan kita mintai sesuatu. Ini bukan ibadah, tapi dagang. Mungkin
bahkan pemerasan yang tak tahu malu.
Allah kita sembah, lalu kita perah
rezeki dan berkah-Nya, bukannya kita sembah karena kita memang harus
menyembah," katanya lagi.
Napas saya sesak. Saya tatap wajah orang ini
baik-baik. Selain keluhuran batin, di wajah yang mulai menampakkan tanda
ketuaan itu terpancar ketulusan iman.
Ibarat Abah menyodorkan
sebuah cermin kepada saya Tampak di sana, wajah saya retak-retak. Saya
malu melihat diri sendiri. Betapa banyak saya telah meminta selama ini,
tapi betapa sedikit saya memberi. Mental korup dalam ibadah itu,
ternyata, bagian hangat dari hidup pribadi saya juga. Semoga ini tidak
terjadi kepada sejawat semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar