Sabtu, 02 Juli 2016

CERITA PAGI " JUDULNYA SAYA MALU "

Kemarin sebelum berangkat praktek, selepas magrib saya mengunjungi Aisyah ., Saya bertemu dengan Abah seorang pedagang  dan imam di sebuah musholla di yayasan Yatim Piatu tempat tinggal  "my Little angel Aisyah.  Meskipun ibadahnya tak seperti kyai besar, namun, saya bisa merasakan kehangatan imannya. Abah ini kalo sholat hanya sebentar, doa dzikirnya pun pendek. 

Kedatangn saya bersamaan dengan selesainya sholat magrib. Saya menyapa Abah , tiba – tiba saja saya bertanya 
“ Abah mengapa salatnya sebentar, dan doanya begitu pendek, cuma melulu istighfar (mohon ampun)." 
" Abah bilang bahwa ia tak ingin minta aneh-aneh. Ia malu kepada Allah".

Saya terus bertanya Abah "Bukankah Allah sendiri menyuruh kita meminta dan bukankah Ia berjanji akan mengabulkannya?"
"Itu betul. Tapi minta atau tidak, kondisi kita sudah dengan sendirinya memalukan. 

Kita ini cuma sekeping jiwa telanjang, dari hari ke hari nyadong berkah-Nya, tanpa pernah memberi. Allah memang Maha Pemberi, termasuk memberi kita rasa malu. Kalau rezeki-Nya kita makan, mengapa rasa malu-Nya tak kita gunakan?" katanya lagi.

Bergetar saya. Untuk pertama kalinya saya merasa malu sebenar-benarnya malu.

"Coba Mbak Thia , Perhatikan di masjid-masjid, jamaah yang minta kepada Allah kekayaan, tambahan rezeki, naik gaji, naik pangkat. Mereka pikir Allah itu kepala bagian kepegawaian di kantor kita. 
Allah kita puji-puji karena akan kita mintai sesuatu. Ini bukan ibadah, tapi dagang. Mungkin bahkan pemerasan yang tak tahu malu. 
Allah kita sembah, lalu kita perah rezeki dan berkah-Nya, bukannya kita sembah karena kita memang harus menyembah," katanya lagi. 
Napas saya sesak. Saya tatap wajah orang ini baik-baik. Selain keluhuran batin, di wajah yang mulai menampakkan tanda ketuaan itu terpancar ketulusan iman.

Ibarat Abah menyodorkan sebuah cermin kepada saya Tampak di sana, wajah saya retak-retak. Saya malu melihat diri sendiri. Betapa banyak saya telah meminta selama ini, tapi betapa sedikit saya memberi. Mental korup dalam ibadah itu, ternyata, bagian hangat dari hidup pribadi saya juga. Semoga ini tidak terjadi kepada sejawat semua.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar