Sabtu, 02 April 2016

MENCARI KEBAHAGIAN



Suatu waktu, datanglah seorang pemuda di tepian telaga, ia termenung, tatapan matanya kosong memandang hamparan air di depannya. Matanya memutar dan mengitari seluruh penjuru mata angin, namun tak satupun  titik membuatnya puas. Ia makin terlena dengan suasana yang kian senyap, sampai terdengar seorang menyapanya.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini, anak muda”? tanya seorang yang ternyata seorang kakek tua. "Apa yang kau risaukan…”? Kakek itu melanjutkan sapaannya.
Pemuda itu menoleh lalu berkata….."Aku lelah kek.

Telah berkilo-kilo jarak kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku.

Kemanakah aku harus mencarinya……? Kapankah kebahagiaan itu kutemukan……?"
Kakek tua itu mendekatkan duduknya dan mendengarkan keluh kesah sang pemuda dengan penuh perhatian. Dipandanginya wajah lelah di depannya, lalu ia berbicara,
"Di depan sana, ada sebuah taman, jika kamu ingin    jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku”.

Mereka berpandangan sejenak. "Ya ... tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tangamu”,  sang kakek mengulang kalimatnya lagi. Perlahan pemuda itu bangkit.
Langkahnya tertuju ke satu arah, taman. Tak seberapa lama ia berjalan, pemuda itu telah sampai di taman yang dimaksud kakek tua.    Taman itu sangat semarak dengan pohon dan warna-warni bunga yang    bermekaran. Di atas bunga-bunga tampak kupu-kupu berterbangan, hinggap dari satu kelopak ke kelopak bunga yang lain. Dari kejauhan, sang kakek hanya memperhatikan gerak-gerik pemuda yang sedang dilanda gelisah karena kebahagiaan tak pernah datang dalam hidupnya.Anak muda itu mulai bergerak. Ia mengendap-endap, di bidiknya sasaran dengan tetap berjalan pelan-pelan. Namun, Hap….! sasaran itu luput. Ia mengejar lagi, ia tidak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!.... Ia gagal.

Pemuda itu mulia berlari tak karuan, terjang sana terjang sini, ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan seekor kupu-kupu. Semak dan perlu diterobos dan gerakannya semakin liar. Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu pun yang dapat ia tangkap. Sang pemuda mulai kelelahan, nafasnya memburu, dadanya bergerak naik turun, sampai akhirnya terdengar teriakan….,

"Hentikan dulu anak muda, istirahatlah”…  Tampak sang kakek berjalan perlahan, dan sekelompok kupu-kupu berterbangan mendekati sang kakek, mereka terbang di sisi kanan kiri kakek itu, berputar-putar, dan sesekali hinggap di tubuh tua itu

“Begitukah caramu mengejar kebahagiaan?.... berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?” ucap sang kakek sambil menatap pemuda itu.

Nak….., mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu, semakin kau terjang, maka ia akan lebih gesit menghindar. Semakin kau buru, semakin cepat pula ia pergi darimu”. 

“Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dan letakkan di dalam hatimu, karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan itu di dalam hatimu, telusuri rasa itu dalam   kalbumu dan Ia tak akan lari kemana-mana,bahkan tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri”. 

Kakek tua itu mengangkat tangannya. Hap…, tiba-tiba tampak seekor kupu-kupu hinggap di ujung jarinya. Terlihat kepakan sayap kupu-kupu itu memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengayun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya yang indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.

“….Mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sanasini, menabrak sana-sini untuk mendapatkannya. Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang dapat kita santap setelah mendapatkannya. Namun kita belajar. Kita belajar bahwa kebahagiaan tak bisa di dapat dengan cara-cara seperti itu. Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di genggam atau benda yang dapat disimpan…..” 
 

TUJUH BUNGKUS NASI PADANG





Beberapa hari yang lalu di yayasan didatangi seorang Ibu paruh baya, usia kurang lebih mendekati 45 tahunan, Masih cukup muda. Dengan wajah memelas penuh pengharapan si Ibu berniat menitipkan empat anaknya yang masih kecil–kecil di yayasan. Miris mendengar kisahnya, terpaksa membesarkan tujuh orang anak tanpa seorang suami. Ibu ini bekerja banting tulang, karena hanya dialah yang menjadi tulang punggung keluarga, dengan keadaan seperti saat ini bagi dia yang sekolahpun tak sempat menamatkan Sekolah Dasar, hasil kerja serabutannya sebagai buruh cuci, setrika dan memulung tidak juga mampu mencukupi kebutuhan dasarnya, bahkan mungkin tidak cukup mampu membuatnya bertahan

Dari hasilnya bekerja yang tidak seberapa, hanya cukup membiayai sekolah ketiga anaknya, itupun sering terlambat. Praktis untuk bisa survive dan makan sehari–hari dia dan ketiga anaknya mengais rezeki sisa makanan dari satu rumah ke rumah yang lain, atau dari satu tempat sampah ke tempat sampah yang lain, meskipun tidak semua nasi enak yang dia dapatkan, bahkan nasi basi dari tempat sampahpun dia ambil,untuk kemudian dipilahnya, nasi yang terkumpul di bagikannya kepada 7 orang anaknya sedangkan si Ibu kalau ada sisa nasi akan di habiskannya, bila tidak ada sisa, cukup baginya anak – anaknya yang kenyang, sedangkan sang ibu mengenyangkan dirinya dengan minum air sebanyak – banyaknya.

Ingatan saya melayang kepada seorang sahabat laki-laki saya. Orangnya pintar, sederhana, tidak perlu meragukan kesuksesannya dalam berkarier. Tentu saja bukan itu yang membuat saya kagum, yang membuat kagum adalah istiqomahnya dalam memberi. Memang bukan sedeqah yang besar yang disedekahkannya adalah 7 Bungkus nasi Padang, dan itu rutin dilakukannya setiap hari kamis atau bila tidak sempat di hari kamis Ia lakukan di hari Jumat. Sahabat saya akan memberikan nasi bungkus tadi kepada siapa saja yang ia temui, kadang pemulung, penarik becak, tukang sampah. Bila mendengar ceritsaya anya walaupun nasi bungkus yang diberikannya tidak selalu dimakan sipenerima, sebagian besar nasi bungkus pemberian sahabat saya ini di bawa pulang untuk diberikan kepada keluarganya.... dia selalu mengatakan kepada saya bergetar hati abang adhek saat melakukan ini, ingat waktu susah, sulit sekali untuk makan.

Bukan hanya sedeqahnya yang ingin saya kagumi tapi rasa empatinya. Sebuah empati yang luar biasa. Hanya bisa terjadi bila kita mau bertindak dengan hati. Sangat sederhana caranya berempati. Saya terenyuh pada sang Ibu. Saya berpikir Karena seorang ibu, tentunya dia ingin menjadi “pahlawan dan pelidung” bagi anak-anaknya. Walapun dengan pakaian kumal seadanya, tetapi saya bisa tau, saat tidak bisa memberi makan anak - anaknya, saat malu tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya, saat tidak mampu melindungi dan memberikan kelayakan pada sang anak, baju ibu itu seolah terkoyak. Saya bisa merasakannya.

 (Thia, Maret 2015)