Minggu, 24 April 2016

KAPAN HARI TERAKHIR ITU



Alkisah disebuah desa kecil tinggallah seorang pria muda yang ingin hidupnya lebih bermakna .Suatu hari ia mendengar bahwa ada seorang bapak tua yang bijaksana yang tinggal di lereng gunung

Terdorong untuk meminta nasehat yang dia butuhkan pria muda itu lalu berangkat menemui bapak tua bijaksana tersebut .Ketika bertemu pria muda mengajukan pertanyaan ;

Bapak yang bijaksana; "Seandainya hidup bapak hanya tinggal satu hari lagi bagaimana bapak menjalani hari itu ???
Orang tua bijak itu mengelus elus jenggot putihnya lalu menjawab; 
Pertama saya akan melakukan doa pagi ,setelah itu saya akan membuat secangkir teh dan pergi kerja kekebun , kemudian saya akan mengunjungi sahabatku lalu saya akan tidur siang

" Lho sebentar pak" …sela pria muda itu ...Bukankah itu adalah apa yang bapak lakukan sehari hari ???
Ya memang... , mengapa hari yang terakhir harus berbeda dengan hari lainnya...Pertanyaan yang sangat penting bagi kita adaalah ;…

"Mengapa hari yang terakhir itu harus berbeda dengan hari lainnya"

JIka selam ini kita menjalani hari demi hari dengan benar dihadapan Tuhan , maka kita tidak perlu takut dalam mengahadapi hari terakhir. Karena kalau kita sampai takut dan membuat segala persiapan yang lain dari biasanya untuk mengahadapi hari terakhir kita berarti kita belum benar dan layak dihadapan Tuhan

Jadi mari kita mengisi hari ini seolah-olah itu adalah hari terakhir kita sehingga kita tidak akan pernah takut kalau hari terakhir kita datang menghampiri kita, karena tak ada seorangpun yang tahu kapan hari terakhir itu akan datang dalam hidupnya
Karena itu berjaga-jagalah sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhan mu datang 

(Kiriman dari sahabat)

( Thia .24 April 2016)

Selasa, 19 April 2016

" ADZAN MBAH SADI "

Suasana sebuah kampung tiba-tiba heboh karena persis jam 22.00 terdengar adzan berkumandang dari sebuah mushalla setempat lewat pengeras suara yang memecah keheningan malam. Warga berbondong-bondong mendatangi mushalla itu meski mereka sudah tahu siapa yang melakukannya ”Mbah Sadi”, suaranya sudah dikenal dikampung itu, umurnya sudah menembus kepala tujuh.

Warga dipenuhi pertanyaan mengapa Mbah Sadi adzan pada jam sepuluh malam?. Ketika warga sampai di pintu mushalla Mbah Sadi baru selesai adzan dan mematikan sound system.

“Mbah tahu ngak jam berapa sekarang?” cecar Pak RT. “Adzan apa jam segini, Mbah?”
“Jangan-jangan Mbah sudah ikut aliran sesat” .sambar Yoso dengan nada prihatin. 
“Sekarang banyak banget aliran macem-macem, “Ah… dasar Mbah Sadi sudah gila“ Kalau nggak gila
, mana mungkin adzan jam segini?”

“Kalian ini ......” jawab Mbah Sadi tenang. “Tadi waktu saya adzan Isya nggak satu pun yang datang ke musholla. Sekarang saya adzan jam 10 malam kalian malah berbondong-bondong ke mushalla satu kampung lagi. Kalo gitu... SIAPA YANG GILA.... coba?” Warga pun ngeloyor pulang satu persatu tanpa protes lagi. Termasuk Pak RT yang melipir menjauh, perlahan-lahan, tak berani melihat wajah Mbah Sadi

================

Selamat istirahat sejawat

Dari Abdullah bin Mas’ud -radhiallahu anhu- dia berkata:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّي هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِي بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا حَسَنَةً وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ

“Siapa yang berkehendak menjumpai Allah besok (hari kiamat) sebagai seorang muslim, hendaklah dia menjaga shalat wajib yang lima ini, dimanapun dia mendengar panggilan shalat itu. Karena sesungguhnya Allah telah mensyariatkan kepada Nabi kalian sunnah-sunnah petunjuk, dan sesungguhnya semua shalat di antara sunnah-sunnah petunjuk itu. Kalau seandainya kalian shalat di rumah-rumah kalian sebagaimana shalatnya orang yang tidak hadir (shalat jamaah) karena dia berada di rumahnya, berarti kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Dan sekiranya kalian meninggalkan sunnah-sunnah nabi kalian, niscaya kalian akan tersesat. Tidaklah seseorang bersuci dengan baik, kemudian dia menuju salah satu masjid yang ada, melainkan Allah akan menulis kebaikan baginya dari setiap langkah kakinya, dan dengannya Allah mengangkat derajatnya, dan menghapus kesalahan karenanya. Menurut pendapat kami (para sahabat), tidaklah seseorang itu tidak hadir shalat jamaah, melainkan dia seorang munafik yang sudah jelas kemunafikannya. Sungguh dahulu seseorang dari kami harus dipapah di antara dua orang hingga diberdirikan si shaff (barisan) shalat yang ada.” (HR. Muslim )

( Thia, 7 Juni 2015)